Widget HTML #1

Tradisi Unik Yang Masih Dilestarikan Di Ngada Flores

Upacara Adat Reba, Tradisi Unik yang Masih Dilestarikan di Ngada Flores, NTT. Upacara adat Reba ialah salah satu jenis kegiatan dari kebudayaan masyarakat yang ada di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Tradisi Flores
Upacara adat ini dilakukan untuk menyambut pergantian tahun. Tradisi festival budaya ini memiliki salah satu ciri khas yang cukup unik yakni makan ubi bersama dengan diiringi oleh tarian adat dari Suku Bena yang disebut dengan Besa Uwi.

Dalam upacara pergantian tahun ini anda juga akan disuguhkan oleh atraksi dari tarian yang berupa sau atau pedang panjang yang digenggam oleh penari dengan liukan tuba sebuah tongkat dengan dihias bulu kambing warna putih. Pengiring dari penari menampilkan sebuah alat musik yang dibuat dari tempurung kelapa dan ditutupi bulu kambing dengan lubang bagian tengah.

Mengenal Upacara Adat Reba

Upacara adat ini ialah bentuk dari rasa syukur oleh masyarakat Ngada kepada para leluhurnya. Salah satu hidangan utamanya yakni ubi yang memiliki maka bahwa ubi ialah sumber untuk makanan yang tidak akan bisa habis yang diberikan bumi kepada masyarakat Ngada.

Sehingga masyrakat di Ngada juga tidak akan mengalami krisis pangan. Hal ini memang benar bahwa masyarakat di Ngada Flores sumber pangan utamanya ialah ubi yang akan tumbuh sepanjang tahun.

Hal ini dijadikan sebagai salah satu makanan wajib yang memang harus disajikan untuk para leluhur ketika upacara Reba dilaksanakan. Masyarakat Ngada mempercayai bahwa ubi ialah gambaran dari tokoh mitologis wanita yang dikirim oleh Sang Pencipta untuk mengorbanakan diri demi kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan Upacara Adat Reba

Dalam pelaksanaan upacara adat ini dijalankan dengan beberapa tahap seperti Bui Loka dimana peserta Bui Loka melakukan pembersihan loka di luar kampung. Upacara ini akan dilakukan paling tidak satu minggu sebelum dimulai upacara reba. Umumnya saat Bui Loka akan menyembelih hewan dan darahnya dipercikkan pada loka (batu) dan dagingnya dimakan dengan nasi bumbu.

Selanjutnya acara dilakukan menjelang Reba, Reba Bhaga. Acara Upacara adat Reba ini diikuti oleh ana sa’o dan ana woe yang sudah ditentukan di salah satu rumah adat. Acara ini memiliki tujuan memberi makan pada ngadhu dan bhaga.

Acara ini dilakukan dengan menyembeli hewan kurban babi atau ayam. Hari selanjutnya diadakan Kobe Reba dengan tarian Sedo Uwi dan saat malam hari para tetangga saling mengundang. Undangan tersebut ditujuan untuk mengungkap rasa bahagia akan tahun baru, kekerabatan, dan solidaritas. 

Setelah itu di malam terakhir Reba ana woe berkumpul di salah satu rumah yang sudah ditentukaan dan melakukan evaluasi setiap kegiatan yang dilakukan anggota suku. Para tetua akan memberi petuah tentang banyak hal dalam kehidupan. Dan kemudian dilanjut memotong ubi dan bercerita tentang legenda perjalanan dari leluhur.

Jadwal Dilaksanakan Upacara Adat Reba

Pesta upacara raba ini bisa anda lihat di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur yang kegiatannya ini juga mencakup beberapa kecamatan yang ada. Misalnya saja Kecamatan  Bajawa, Kecamatan Mataloka, Kecamatan Aimere, Kecamatan So’a, dan juga Kecamatan jerebu’u. Setiap kecamatan yang ikut untuk upacara ini juga akan gantian untuk menjadi tuan tumah di setiap tahunnya.

Tentu saja hal ini dengan tujuan supaya setiap kecamatan yang ada akan diberikan kehormatan dan juga mempunyai peran yang adil. Acara ini akan dilaksanakan pada bulan Desember sampai bulan Februari. Akan tetapi untuk puncak dari acara ini ialah pada pertengahan bulan Januari yaitu pada tanggal 14 sampai tanggal 16 Januari tiap tahun.

Jadwal untuk pelaksanaan upacara Reba ini sendiri juga berdasarkan kalender lokal, jadi waktunya juga tidak selalu tepat dengan kalender Masehi. Upacara Reba ini umumnya dilaksanakan pada awal bulan Desember di Doka dan Sada, sekitar 25 km dari arah selatan Bajawa.

Kemudian pada bulan Januari dilakukan di Nage - Dariwali Aimere, Wogo - Ratogesa Golewa, Langa - Beja Bejawa. Kemudian pada bulan Februari dilakukan di Deru - Nenowea Jerebu’u, Mangulewa Golewa, dan di Gisi - Laba Golewa. Di pertengan Desember dilaksanakan di Bena - Tiworiwu Aimere.

Sedangkan tujuan dari diadakan upacara ini ialah untuk evaluasi semua hal tentang kahidupan di tahun sebelumnya. Upacara adat Reba ini salah satu jenis upacara yang sampai saat ini masih dilestarikan. 

Mengapa Melestarikan Tradisi Penting?

Melestarikan tradisi merupakan upaya menjaga identitas budaya, memperkuat jati diri masyarakat, dan menghormati warisan leluhur. Tradisi juga menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai kehidupan, seperti gotong royong, toleransi, dan rasa kebersamaan. 

Selain itu, pelestarian tradisi dapat mendukung sektor pariwisata, membuka peluang ekonomi, serta memperkenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda dan dunia internasional. Tanpa pelestarian, tradisi berisiko punah, yang berarti kehilangan salah satu aset berharga dalam sejarah dan kebudayaan suatu bangsa.

Kesimpulan

Ngada, Flores, merupakan daerah yang kaya akan tradisi unik yang masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi-tradisi ini tidak hanya mencerminkan kekayaan budaya lokal tetapi juga menjadi identitas yang memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat Ngada. 

Dengan tetap menjaga warisan leluhur, tradisi seperti upacara adat, tarian, dan sistem gotong royong menjadi bukti harmonisasi nilai-nilai kearifan lokal dengan kehidupan modern. 

Pelestarian tradisi ini juga berperan penting dalam menarik minat wisatawan, yang pada gilirannya mendukung perkembangan ekonomi daerah. Melalui peran aktif masyarakat dan dukungan pemerintah, tradisi di Ngada memiliki peluang besar untuk terus bertahan dan dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Post a Comment for "Tradisi Unik Yang Masih Dilestarikan Di Ngada Flores"